Pagi itu saya duduk di beranda rumah, kopi hitam sudah dingin tapi belum tersentuh. Pikiran saya jauh, ke satu obrolan beberapa malam sebelumnya dengan ibu. “Bu, kalau Allah kasih rezeki, tahun ini kita umroh, ya,” kata saya waktu itu. Ibu tersenyum, matanya berkaca-kaca. Tapi dia nggak langsung jawab. Hanya menatap saya lama-lama. Mungkin karena dia tahu, niat ini bukan cuma janji.
Hari-hari berikutnya saya mulai mencari informasi. Yang paling banyak ditanya orang soal umroh itu pasti satu: “Biayanya berapa?” Dan karena saya tinggal di Lombok, tentu saja saya fokus cari info biaya umroh lombok, bukan dari Jakarta atau Surabaya. Saya butuh travel yang ngerti medan sini. Yang tahu bagaimana membantu warga lokal dari desa-desa kecil yang mungkin baru pertama kali ke luar negeri.
Itu pertama kalinya saya kenalan dengan Fitour International. Awalnya cuma lihat dari status WhatsApp teman, lalu saya klik link-nya, scroll pelan-pelan. Banyak wajah jamaah yang familiar, ternyata mereka tetangga sendiri. Saya jadi makin penasaran. Saya kontak tim Fitour lewat nomor yang ada di bio, dan dari situ semuanya mulai terasa lebih nyata.
Yang bikin saya langsung klik, bukan cuma soal info biaya atau teknis pendaftaran. Tapi cara mereka jawab. Ramah, sabar, jelas. Mereka ngerti kalau banyak calon jamaah dari Lombok yang masih perlu penjelasan dari awal banget. Nggak semua orang paham istilah penerbangan, visa, atau manasik. Tapi mereka tidak menggurui. Malah ngajak ngobrol santai seperti teman lama.
Saya diajak ikut sesi sharing dan manasik pertama di salah satu aula masjid di Mataram. Suasananya adem. Bukan sekadar kelas, tapi lebih kayak kumpul keluarga. Ada jamaah dari Lombok Tengah, Sumbawa, sampai Dompu. Banyak yang baru pertama kali umroh, dan semuanya disambut dengan tangan terbuka.
Satu hal yang selalu saya ingat dari manasik itu adalah ketika ustadz pembimbing bilang, “Jangan lihat umroh sebagai angka. Tapi sebagai panggilan. Kalau kamu serius niat, insyaAllah Allah bantu sisanya.” Kalimat itu dalam sekali buat saya. Bukan karena saya lagi hitung-hitung budget, tapi karena saya sadar, umroh itu soal keberanian menjemput undangan-Nya.
Bicara soal biaya umroh lombok, Fitour menjelaskan semuanya dengan transparan. Nggak ada yang ditutup-tutupi. Mereka bahkan bantu jamaah menghitung kebutuhan pribadi seperti paspor, vaksin, hingga kebutuhan selama transit. Tapi yang saya paling hargai adalah mereka nggak pernah menekan orang buat langsung daftar. Bahkan saya lihat sendiri ada calon jamaah yang belum siap berangkat, dan tim Fitour tetap bantu arahkan dengan sabar tanpa memaksa.
Setelah saya dan ibu mantap, proses berlanjut ke persiapan keberangkatan. Dan lagi-lagi, tim Fitour benar-benar mendampingi. Mereka bantu pengurusan dokumen, koordinasi keberangkatan dari Bandara Internasional Lombok, hingga memastikan jamaah paham alur perjalanan. Semua ini bikin saya merasa tenang, terutama karena ibu saya sudah tidak muda lagi dan belum pernah naik pesawat jauh.
Waktu hari H tiba, saya ingat betul suasana di bandara. Ramai tapi teratur. Jamaah saling menyemangati, beberapa di antaranya bahkan sudah saling kenal karena sering ikut manasik bareng. Tim Fitour menyapa semua orang satu-satu, mengecek ulang dokumen, dan memastikan tak ada barang jamaah yang tertinggal. Layanan yang mereka berikan terasa tulus. Bukan sekadar pekerjaan.
Selama di Tanah Suci, saya ikut memantau lewat grup WhatsApp yang mereka buat khusus untuk keluarga jamaah. Ada update harian, foto-foto kegiatan, bahkan voice note dari pembimbing yang kasih kabar singkat tapi hangat. Saya tahu ibu dalam keadaan baik, dan itu lebih dari cukup untuk saya yang menunggu di rumah.
Ibu pulang dengan wajah yang lebih tenang dari sebelumnya. Ada cahaya di matanya yang tidak saya lihat sejak lama. Dia cerita banyak, tapi ada satu kalimat yang bikin saya lega, “Nak, semua dibimbing. Kita dilayani seperti keluarga. Ibu nggak pernah merasa sendiri selama di sana.”
Dan itulah kenapa saya akhirnya ikut bantu sebarkan informasi ini ke lebih banyak orang. Banyak yang tanya ke saya sekarang soal travel yang amanah dari Lombok. Saya selalu jawab, “Mulai dari sini aja:
Fitour International
Di situ lengkap banget. Dari program reguler, sampai program khusus seperti lansia atau rombongan keluarga. Ada juga dokumentasi keberangkatan, testimoni jamaah, bahkan jadwal keberangkatan yang bisa disesuaikan. Mereka ngerti banget kebutuhan masyarakat NTB.
Sekarang, saya sedang bantu kakak dan beberapa teman dekat untuk mendaftar. Kami berencana berangkat bareng tahun depan. Dan saya nggak ragu sedikit pun untuk merekomendasikan Fitour. Karena saya tahu, pengalaman saya bukan kebetulan. Pelayanan mereka memang sudah terbukti, dan saya tahu mereka terus menjaga kepercayaan jamaah dari waktu ke waktu.
Kalau kamu juga lagi cari tahu soal program umroh, dan masih membandingkan mana yang paling cocok, mungkin kamu bisa mulai dari nilai-nilai yang ditawarkan. Soal pendampingan, keterbukaan informasi, dan perhatian terhadap jamaah. Karena umroh itu bukan perjalanan biasa. Dan orang yang kita percayakan untuk mendampingi, harusnya juga bukan orang biasa-biasa.